Resensi Film “Film Agak Laen 2”

Judul film : Agak laen 2
Sutradara : Muhadkly Acho
Produser : Ernest Prakasa dan Dipa Andika
Penulis : Muhadkly Acho
Produksi : Imajinari
Durasi : 119 menit atau sekitar 1 jam 59 menit.
Pemeran : Bene Dion, Boris Bokir, Indra Jegel, Oki Rengga, Gita Bhebhita, Tissa Biani,
Boah Sartika, Priska Baru Segu, Chew Kin Wah, Jajang C. Noer, Jarwo Kwat, Tika
Panggabean, dan banyak lagi
Resentator: [Raya Brilliant O]

“Persahabatan sejati bukan tentang kesempurnaan masing-masing individu, melainkan
tentang bagaimana empat orang yang gagal tetap bersama dan saling menguatkan di

tengah kekacauan.”

Mengisahkan empat polisi bernama Bene, Boris, Jegel, dan Oki yang karier mereka terancam
usai berulang kali gagal dalam misi. Di saat karir mereka di ujung tanduk, mereka justru diberi
kesempatan terakhir yang terdengar seperti lelucon: menyusup ke panti jompo untuk
mengungkap kasus pembunuhan. Di tengah tekanan dan kemungkinan dipecat, keempatnya
justru menunjukkan bahwa persahabatan mereka menjadi kekuatan utama yang membuat
mereka terus bertahan dan berjuang bersama.

Film ini menghadirkan potret persahabatan yang langka dalam sinema Indonesia—bukan
persahabatan yang indah dan sempurna, melainkan persahabatan yang lahir dari kegagalan,
kekurangan, dan keterbatasan. Keempat karakter ini bukan pahlawan super, bukan polisi
teladan, bahkan sering kali menjadi bahan ejekan di kantor. Namun, di balik semua kekurangan
itu, mereka memiliki satu hal yang tidak dimiliki banyak orang: loyalitas tanpa syarat satu sama
lain.

Dinamika persahabatan Bene, Boris, Jegel, dan Oki dibangun di atas fondasi penerimaan.
Mereka menerima satu sama lain apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan. Bene
yang ceroboh, Boris yang sok tahu, Jegel yang polos, dan Oki yang pragmatis—keempat
karakter yang berbeda ini justru saling melengkapi. Tidak ada upaya untuk mengubah satu
sama lain, tidak ada penghakiman atas kegagalan masing-masing. Yang ada adalah dukungan,
candaan yang mencairkan ketegangan, dan kebersamaan yang membuat beban terasa lebih
ringan.

*Teori Sosial: Solidaritas Mekanik Émile Durkheim*
Solidaritas mekanik adalah ikatan sosial yang terdapat pada masyarakat tradisional dan
homogen, yang diikat oleh kesadaran kolektif yang kuat. Individu di dalamnya memiliki nilai,
kepercayaan, dan rutinitas yang nyaris seragam. Pembagian kerja masih sangat minim,
sehingga setiap orang mampu melakukan pekerjaan yang sama.
Konsep ini pertama kali dicetuskan oleh sosiolog Émile Durkheim dalam karya utamanya, The
Division of Labour in Society (1893).

Dikutip dari karya klasik Durkheim, The Division of Labour in Society, berikut adalah poin-
poin bunyi dari teori tersebut:

 Ikatan Kesadaran Kolektif: Solidaritas ini terwujud secara maksimal ketika
kesadaran kolektif mencakup seluruh atau sebagian besar kesadaran rata-rata anggota
kelompok dalam masyarakat yang sama.
 Kesamaan Sistem Nilai: Masyarakat disatukan oleh keyakinan dan perasaan yang
dianut bersama oleh seluruh anggota kelompok.
 Hukum Represif: Solidaritas dipertahankan oleh hukum represif, di mana setiap
pelanggaran terhadap kesadaran kolektif akan mendapatkan hukuman atau sanksi
keras sebagai bentuk reaksi bersama untuk melindungi nilai kelompok.

Film ini dapat dianalisis menggunakan teori solidaritas mekanik dari sosiolog Prancis Émile
Durkheim. Dalam teorinya, Durkheim membedakan dua jenis solidaritas: mekanik dan
organik. Solidaritas mekanik terjadi dalam kelompok yang anggotanya memiliki kesamaan
nilai, norma, dan pengalaman, serta terikat oleh kesadaran kolektif yang kuat.

Keempat polisi dalam film ini menunjukkan karakteristik solidaritas mekanik yang sangat
jelas. Mereka terikat bukan karena perbedaan kemampuan yang saling melengkapi (seperti
solidaritas organik), melainkan karena kesamaan nasib sebagai “polisi gagal” yang terus
mengalami kegagalan bersama. Kesadaran kolektif mereka terbentuk dari pengalaman
bersama: diejek rekan kerja, dianggap tidak kompeten, dan selalu gagal dalam misi. Namun,
alih-alis saling menyalahkan, mereka justru semakin erat.

Durkheim menyatakan bahwa dalam solidaritas mekanik, individu-individu dalam kelompok
memiliki kesadaran kolektif (conscience collective) yang kuat—keyakinan dan sentimen yang
sama yang mengikat mereka. Dalam film ini, kesadaran kolektif itu terwujud dalam bentuk:
(1) penerimaan bahwa mereka memang tidak sempurna, (2) komitmen untuk tidak
meninggalkan satu sama lain meskipun situasi sulit, dan (3) keyakinan bahwa bersama-sama
mereka bisa menghadapi apapun, meskipun peluang sukses kecil.

Teori ini juga menjelaskan mengapa kelompok dengan solidaritas mekanik cenderung
memiliki mekanisme pe rtahanan yang kuat terhadap ancaman eksternal. Ketika keempat polisi
ini terancam dipecat, mereka justru semakin solid. Ancaman dari luar (atasan yang ingin
memecat mereka, misi yang mustahil) justru memperkuat ikatan internal mereka. Ini sesuai
dengan konsep Durkheim tentang bagaimana kelompok dengan solidaritas mekanik cenderung
semakin kohesif ketika menghadapi tekanan eksternal.

Selain itu, film ini juga menunjukkan konsep “collective effervescence” atau euforia kolektif
dari Durkheim—momen-momen ketika kelompok berkumpul dan melakukan aktivitas
bersama yang memperkuat ikatan sosial mereka. Adegan-adegan di mana keempat polisi ini
bercanda, berdebat, atau bahkan bertengkar kecil, kemudian berdamai kembali, adalah
manifestasi dari euforia kolektif yang memperkuat solidaritas mereka.

Yang menarik, film ini juga menunjukkan sisi gelap dari solidaritas mekanik: kecenderungan
untuk menutup mata terhadap kekurangan anggota kelompok. Karena ikatan emosional yang
begitu kuat, keempat polisi ini kadang tidak saling mengoreksi ketika salah, atau justru saling
membenarkan kesalahan satu sama lain. Ini menunjukkan bahwa solidaritas yang terlalu kuat
tanpa kritik konstruktif bisa menjadi bumerang.

Namun, pada akhirnya, film ini menunjukkan bahwa solidaritas mekanik yang dibangun Bene,
Boris, Jegel, dan Oki adalah kekuatan yang membuat mereka bertahan. Di dunia yang sering
kali menghakimi dan menuntut kesempurnaan, mereka menemukan ruang aman satu sama
lain—ruang di mana mereka bisa menjadi diri sendiri, gagal bersama, dan tetap dicintai apa
adanya.

Amanat/Pesan Moral:
1. Persahabatan sejati tidak menuntut kesempurnaan. Film ini mengajarkan bahwa teman yang
baik bukanlah mereka yang sempurna, melainkan mereka yang tetap ada di saat kita dalam
kondisi terburuk kita.

2. Kegagalan bersama bisa menjadi fondasi persahabatan yang kuat. Berbagi pengalaman sulit
dan kegagalan justru bisa mempererat hubungan, asalkan disikapi dengan saling mendukung,
bukan saling menyalahkan.
3. Loyalitas lebih berharga daripada prestasi. Di dunia yang sering kali hanya menghargai
hasil dan pencapaian, film ini mengingatkan bahwa kesetiaan dan kebersamaan adalah nilai
yang tidak kalah penting.
4. Menerima kekurangan orang lain adalah bentuk cinta tertinggi. Keempat karakter ini
menunjukkan bahwa cinta persahabatan yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk
menerima seseorang apa adanya, tanpa syarat dan tanpa harapan untuk mengubahnya.
5. Bersama-sama, beban terasa lebih ringan. Masalah sebesar apapun akan terasa lebih mudah
dihadapi ketika kita tidak sendirian. Persahabatan memberikan kekuatan yang tidak bisa
didapatkan sendirian.
6. Jangan biarkan penilaian orang lain merusak hubungan pertemanan. Meskipun dianggap
gagal oleh orang lain, keempat polisi ini tahu nilai mereka satu sama lain. Mereka tidak
membiarkan stigma eksternal merusak ikatan yang sudah dibangun.
7. Persahabatan yang sehat adalah yang saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Film
ini menunjukkan bagaimana keempat sahabat ini saling mendukung, menghibur, dan
memotivasi di saat sulit, bukan saling menyalahkan atau menjatuhkan.