Jejak Aida Menuju Indonesia Emas 2045

Oleh: Khilyatun Nabila

Di sebuah kota hiduplah seorang santri yang bernama Aida. Aida berasal dari keluarga yang
terpandang dan sangat digemari dalam kalangan masyarakat. Ia seorang anak tunggal yang sangat
disayangi oleh keluarganya. Sewaktu ia kecil, hidupnya sangat bahagia. Namun, kebahagiaan itu
tidak bertahan lama. Ayahnya meninggal dunia secara tiba-tiba saat ia masih berada di bangku MTS.

Pada saat itu ia berada di kelas IX dan sedang melaksanakan Ujian Akhir Semester. Di tengah-
tengah ujian berlangsung, gurunya memberitahu Aida tentang kabar ayahnya yang telah meninggal

dunia. Waktu ia mendengar kabar tersebut, ia sangat terpukul dan merasa kehilangan separuh
hidupnya. Saat itu juga ia bergegas pulang ke rumah.
Saat Aida tiba di rumah, ia bertanya kepada ibunya.
Aida : “ Ibu, kenapa Ayah meninggal dunia? Kenapa Ayah pergi secepat ini?”
Ibu : (Ibu menghela napas dan memeluk Aida) “Sayang, semua orang di dunia ini ibarat tamu. Dan
setiap tamu pasti akan kembali pulang ke rumahnya.”
Ibu : “ Yang sabar ya, nak. Ibu tahu perasaan kamu. Ibu yakin kamu bisa melewati ini semua.”
Aida : “ ( Mendengar nasihat Ibunya, Aida hanya bisa menangis sambil memeluk jenazah Ayahnya)”
Setelah melewati kesedihan yang berlarut-larut, ia kembali bangkit dan menjalani kehidupan
sehari-hari. Tiba di mana saat ia memasuki bangku SMA. Ibunya memasukkan Aida ke sebuah SMA
yang bernama “Al Azhar” (Lembaga pendidikan berasrama bertaraf internasional yang memadukan
kurikulum nasional, agama Islam dan materi internasional). Sekolah ini menawarkan kurikulum
intensif, termasuk tahfidz Al-Qur’an 30 juz, bimbingan bahasa Arab/Inggris dan pengembangan
minat bakat.
Saat ini Aida tinggal di asrama sekolahnya. Ia termasuk murid yang sangat aktif dan
berprestasi. Dia bisa dikatakan “primadona” yang digemari banyak siswa. Guru-guru selalu mengajak
Aida untuk berkontribusi di sekolah. Setiap ujian, Aida selalu mendapatkan peringkat pertama. Ia
juga seorang ketua kelas yang sangat disiplin dan bertanggung jawab.
Awalnya semua berjalan dengan lancar, hingga tiba saat Aida naik kelas XI, ia mendapat telepon dari
ibunya.
Ibu : “ Hallo nak! Bagaimana kabar mu? ”
Aida : “ Alhamdulillah, Bu, baik. Ibu sendiri gimana kabarnya, Bu? ”

Ibu : “ Alhamdulillah nak, Ibu baik-baik saja ”
Aida : “Ada apa, Bu?”
Ibu : “ Maaf nak”
Aida : “Maaf, kenapa, Bu?”
Ibu : “ Bisnis yang Ayah tinggalkan kepada kita mengalami kebangkrutan.
Aida : “Kenapa bisa terjadi, Bu? “
Ibu : “ Maaf ya, nak, Ibu telah gagal mengelola bisnis ini.
Aida : “ Terus bagaimana, Bu? Apa yang harus kita lakukan? ”
Ibu : “ Maaf nak, Ibu bener-bener minta maaf. Kita minggu depan akan pindah ke kampung
halaman nenek.”
Aida : “ Kalau itu keputusan yang terbaik buat kita, aku akan ikut bersama Ibu”
Setelah Aida menutup telepon ibunya, Aida merenung sejenak dan melamun beberapa menit.
Kemudian Aida memikirkan nasibnya.

Saat ia akan pindah, Aida dijemput oleh ibunya, lalu Aida berpamitan kepada teman-teman dan guru-
guru serta pengurus asramanya. Mereka sangat sedih atas pindahnya Aida.

Perjalanan Aida menuju kampung halaman neneknya terasa sunyi dan membosankan.
Gedung-gedung tinggi seketika berubah menjadi hamparan sawah-sawah yang hijau. Di dalam hati
ia memikirkan nasib keluarganya akan bagaimana ke depannya. Ia ingat pesan ibunya, “bahwa setiap
tamu akan pulang”. Dan kini ia pulang untuk memulai hidup baru.
Aida kini mendaftar di sekolah MA Al-Anwar. Meski fasilitasnya sederhana, Aida tetap
bersyukur karena ia dapat meningkatkan nilai kemampuannya. Namun, ia tidak sekadar mengejar
nilai. Saat ia sudah mulai terbiasa hidup di desa, Aida kini melihat anak-anak yang putus sekolah
karena kendala biaya. Alih-alih terpuruk dalam keadaan, ia menjadikan kejadian ini sebagai motivasi
hidup. Teringat akan kemampuannya, Aida memutuskan untuk membangun “Rumah Pintar Indonesia
Emas” setiap sore sampai malam. Aida memanfaatkan rumah kecil nenek untuk mengajar anak-anak
desa tanpa dikenai biaya sepeser pun. Aida tidak hanya mengajarkan mata pelajaran umum, tetapi ia
juga menerapkan kurikulum yang ia dapat di Al-Azhar. Di sel-sela ia mengajar murid-murid kecilnya,
ia sering berpesan “Dek, di tahun 2045 nanti saat Indonesia genap berusia 100 tahun. Kalianlah yang
akan menjadi garda terdepan saat Indonesia mengalami kesulitan. Salih/Salihah saja tidak cukup;
kalian harus pintar dan bijaksana.

Tahun demi tahun berlalu, dan gema suara Aida di teras rumah neneknya mulai membuahkan
hasil. “Rumah Pintar Indonesia Emas” tidak lagi hanya berisi tiga atau lima anak. Melainkan sudah
puluhan anak. Keikhlasan Aida mengajar tanpa dikenai biaya sepeser pun justru membukakan pintu
rezeki yang tak terduga. Beberapa orang dari luar desa mulai mengirimkan buku-buku bacaan, alat
tulis, dan sedikit uang untuk membantu kebutuhan Aida.
Namun, ujian sesungguhnya datang ketika Aida menginjak kelas XII di MA Al-Anwar. Ia
bingung dihadapkan pada dua pilihan antara pengabdian dan masa depannya sendiri. Perjuangan di
ambang kelulusan, di sela-sela ia mempersiapkan Ujian Akhir Semester, ia tetap konsisten mengajar.
Untuk membawa perubahan kepada anak-anak itu, ia merasa harus memiliki bekal ilmu yang lebih
tinggi lagi. Ia memiliki mimpi yang tinggi untuk melanjutkan ke universitas impiannya.
Setiap malam setelah mengajar, ia selalu sujud dan berdoa di sepertiga malam. Aida selalu
disemangati oleh ibu dan neneknya. Mereka yakin bahwa Aida pasti bisa melewati semua ini. Namun,
keinginan Aida untuk melanjutkan mimpinya kini mulai memudar dikarenakan tantangan ekonomi
yang dihadapi saat ini menjadi penghalang utama bagi dirinya.
Tetapi Aida tidak menyerah begitu saja. Ia berjuang mengikuti berbagai macam beasiswa.
Sampai akhirnya Aida diterima di universitas impiannya “UIN Walisongo Semarang” dan
mendapatkan beasiswa tahfidz, Aida sangat senang mendapat kabar tersebut. Ia kemudian segera
memberi kabar tersebut kepada ibu dan neneknya.
Ruang tamu di sore hari. Ibu sedang melipat baju dan meminum teh. Aida berlari masuk membawa
ponselnya.
Aida : (dengan nada senang) “ Ibu! Nenek! Lihat ini! Cepat lihat!”

Ibu : (terkejut sampai menjatuhkan lipatan baju) “Atagfirullah, Aida! Ada apa? Kenapa lari-lari
begitu?”
Nenek: “Pelan-pelan, Aida, kenapa nak?”
Aida : (menyodorkan ponselnya dengan tangan gemetar) “Aida…Aida lolos, Bu! Nek! Aida di
terima di UIN Walisongo Semarang”
Ibu : (mata berkaca-kaca, sambil memeluk Aida) “ Alhamdulillah… Ya Allah, Ibu bangga sekali,
Nak. Doa kamu selama ini akhirnya dijawab.”
Nenek : (Tersenyum lebar) “Masya Allah, cucu Nenek hebat!”
Aida : “Terimakasih Nek, cucu Nenek kan memang hebat” (Aida pun tertawa bersama Nenek dan
Ibunya)
Percakapan diakhiri dengan suasana hangat dan penuh tawa. Aida dengan rasa percaya diri
mengamini pujian sang Nenek, menandai babak baru kehidupannya yang penuh harapan menuju
dunia perkuliahan. Perjalanan Aida menuju UIN Walisongo Semarang menjadi langkah baru yang
penuh harapan sekaligus tantangan.
Selang dua bulan kemudian, Aida akhirnya tiba di Kota Semarang. Kampus yang selama ini
hanya bisa ia impikan kini benar-benar menjadi tempat ia menuntut ilmu. Di UIN Walisongo, Aida
tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Ia bergabung
dalam komunitas dakwah kampus dan lembaga sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Baginya,
menjadi generasi salihah bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang memberi manfaat
bagi orang lain.
Pesan moral yang terkandung dalam cerita tersebut yaitu kita tidak boleh menyerah dalam keadaan
apa pun. Kesedihan bukan akhir dari segalanya, melainkan bentuk awal dari perjalanan hidup.
Pendidikan adalah kunci untuk mengubah masa depan, bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi
juga untuk orang lain.

Bionarasi
Halo, nama saya Khilyatun Nabila. Biasa dipanggil Nabila. Saya lahir di Kota Rembang
dengan makanan khasnya, dumbek dan lontong tuyuhan. Lahir pada bulan Januari 2008. Saya
sekarang sedang menempuh pendidikan di UIN Walisongo Semarang. Cerita ini saya tulis sebagai
bagian dari upaya untuk memenuhi tugas kesastraan di mata kuliah literasi kesastraan. Melalui karya
ini, saya berharap dapat menyampaikan pesan yang bermakna serta memberikan inspirasi bagi para
pembaca.