Essai “Dunia Dalam Genggaman, Fokus yang Perlahan Hilang”

Di zaman sekarang, rasanya hampir tidak ada orang yang bisa lepas dari ponsel. Dari bangun
tidur hingga menjelang tidur kembali, tangan kita seolah sudah terbiasa menggenggamnya.
Melalui sebuah layar kecil, kita bisa mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di belahan
dunia lain hanya dalam hitungan detik. Berkomunikasi dengan keluarga yang berada jauh,
mencari informasi untuk mengerjakan tugas, hingga mendapatkan hiburan dapat dilakukan
dengan sangat mudah. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa dunia kini benar-benar berada
dalam genggaman.
Namun, di balik segala kemudahan itu, ada sesuatu yang perlahan berubah tanpa banyak
disadari, yaitu kemampuan kita untuk menjaga fokus. Niat awal membuka media sosial
mungkin hanya untuk membalas pesan atau mencari referensi tugas. Akan tetapi, beberapa
menit kemudian, tanpa sadar kita sudah berpindah dari satu video ke video lain, dari satu
unggahan ke unggahan berikutnya. Waktu terasa berjalan begitu cepat, sementara pekerjaan
yang seharusnya diselesaikan justru masih tertunda.
Saya sendiri pernah mengalaminya. Ketika sedang mengerjakan tugas kuliah, saya
membuka media sosial dengan alasan mencari informasi tambahan. Namun, karena muncul
berbagai konten yang menarik, perhatian saya beralih begitu saja. Saat melihat jam, ternyata
hampir satu jam telah berlalu tanpa menghasilkan apa pun. Pengalaman sederhana tersebut
membuat saya menyadari bahwa media sosial bukan hanya menawarkan informasi, tetapi juga
mampu mencuri perhatian jika digunakan tanpa kendali.
Di sisi lain, saya tidak bisa mengatakan bahwa media sosial sepenuhnya membawa dampak
buruk. Justru melalui media sosial saya sering memperoleh informasi yang bermanfaat, seperti
materi pembelajaran, berita terkini, peluang beasiswa, hingga berbagai keterampilan baru yang
dapat dipelajari secara gratis. Banyak pelaku usaha kecil juga berhasil mengembangkan
bisnisnya melalui media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial merupakan sebuah
alat yang memiliki banyak manfaat apabila dimanfaatkan dengan baik.

Permasalahan muncul ketika media sosial digunakan secara berlebihan. Kebiasaan terus-
menerus memeriksa notifikasi membuat kita sulit berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Tidak

sedikit orang yang lebih sibuk memperhatikan kehidupan orang lain di dunia maya daripada
menikmati momen bersama orang-orang yang berada di sekitarnya. Saat berkumpul bersama
keluarga atau teman, pemandangan setiap orang yang sibuk menatap layar ponselnya sudah
menjadi hal yang biasa. Padahal, percakapan sederhana secara langsung sering kali jauh lebih
bermakna daripada ratusan interaksi di media sosial.
Menurut saya, tantangan terbesar di era digital bukanlah menghindari media sosial,
melainkan belajar menggunakannya dengan bijak. Kita tidak mungkin menolak perkembangan
teknologi, tetapi kita masih bisa menentukan bagaimana teknologi tersebut memengaruhi
kehidupan kita. Membatasi waktu bermain media sosial, mematikan notifikasi saat belajar,
serta menyediakan waktu khusus untuk berinteraksi secara langsung dengan keluarga dan

teman merupakan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan agar perhatian kita tidak
mudah terpecah.
Kita sebagai generasi muda atau di media sosial sering disebut sebagai gen Z adalah generasi
penerus bangsa. Jika kaum muda tidak bijak dalam menggunakan media sosial, lantas
bagaimana nasib bangsa kita kedepannya?. Tidak hanya generasi muda, bahkan anak-anak di
bawah umur pun zaman sekarang sudah banyak sekali yang kecanduan gadget. Maka dari itu,
pemahaman terkait literasi digital harus ditanamkan sejak dini.
Media sosial hanyalah sebuah sarana. Ia dapat menjadi jendela yang membuka wawasan,
tetapi juga dapat menjadi pengalih perhatian apabila digunakan tanpa kendali. Semua kembali
kepada pilihan masing-masing. Jangan sampai karena terlalu sibuk mengejar apa yang terjadi
di balik layar, kita justru kehilangan kesempatan menikmati kehidupan yang nyata di depan
mata. Dunia memang berada dalam genggaman, tetapi fokus tetap harus berada dalam kendali
kita.