Fenomena Begadang Demi Deadline Tugas: Produktif atau Kebiasaan Toxic?
Oleh: Nur Baity Mauludyah
Begadang demi menyelesaikan tugas sudah menjadi fenomena yang sangat umum di
kalangan mahasiswa. Kalimat seperti “nanti malam aja kerjainnya” atau “deadline
besok, gas SKS!” seolah menjadi bagian dari kehidupan kampus sehari-hari. Tidak
sedikit mahasiswa yang menganggap begadang sebagai hal wajar, bahkan sebagai
simbol perjuangan akademik. Padahal, kebiasaan ini menimbulkan pertanyaan penting, apakah begadang benar-benar membuat mahasiswa lebih produktif, atau justru menjadi
kebiasaan toxic yang perlahan merugikan?
Ada berbagai faktor yang menyebabkan mahasiswa sering begadang. Salah satunya
adalah banyaknya tugas dengan deadline yang berdekatan. Dalam satu minggu, mahasiswa bisa menghadapi presentasi, laporan praktikum, makalah, bahkan revisi
tugas sekaligus. Kondisi ini sering diperparah oleh kebiasaan menunda pekerjaan atau
prokrastinasi. Banyak mahasiswa merasa masih punya waktu, hingga akhirnya memilih
menyelesaikan semuanya dalam semalam melalui budaya yang dikenal sebagai SKS
(Sistem Kebut Semalam). Selain itu, beberapa mahasiswa merasa malam hari adalah waktu paling ideal untuk
bekerja. Suasana yang lebih tenang, minim gangguan, dan sedikit distraksi membuat
mereka merasa lebih fokus. Penelitian mengenai kebiasaan begadang pada mahasiswa
menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa memang memiliki persepsi bahwa begadang
membantu meningkatkan fokus dalam menyelesaikan tugas akademik (Nurlela, N., 2023). Dari sudut pandang tertentu, begadang memang terlihat produktif. Tugas selesai tepat
waktu, materi presentasi rampung, dan deadline berhasil dilewati. Bagi mahasiswa yang
aktif di organisasi atau bahkan bekerja sambil kuliah, malam hari terkadang menjadi
satu-satunya waktu untuk belajar. Hal ini membuat begadang sering dianggap sebagai
strategi bertahan dalam ritme kehidupan kampus yang padat. Namun, produktivitas jangka pendek tidak selalu berarti baik untuk jangka panjang. Di
balik tugas yang selesai, ada konsekuensi yang sering diabaikan. Kurang tidur dapat
menurunkan konsentrasi, mengurangi daya ingat, dan menurunkan kemampuan berpikir
kritis. Penelitian menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan
penurunan performa akademik mahasiswa (Fahturosi, D., 2021). Dampak begadang tidak berhenti pada akademik saja. Mahasiswa yang kurang tidur
cenderung lebih mudah lelah, sulit fokus saat kuliah, serta mengalami perubahan
suasana hati seperti mudah marah atau stres. Jika kebiasaan ini terus berlangsung, risiko
gangguan kesehatan fisik dan mental pun meningkat. Pola tidur yang buruk pada
mahasiswa berkorelasi dengan tingkat stres yang lebih tinggi dan kesehatan psikologis
yang menurun. Ironisnya, tugas yang dikerjakan semalaman belum tentu menghasilkan kualitas terbaik. Saat tubuh lelah, kemampuan otak dalam menganalisis dan menyusun ide juga menurun. Akibatnya, hasil pekerjaan sering kali kurang maksimal meskipun waktu yang
dihabiskan sangat banyak. Menurut saya, begadang sesekali karena situasi mendesak masih bisa dimaklumi. Ada
kondisi tertentu yang memang sulit dihindari. Namun, ketika begadang berubah menjadi
rutinitas, hal ini tidak lagi bisa disebut produktif. Kebiasaan tersebut justru
menunjukkan adanya masalah dalam manajemen waktu dan pengelolaan prioritas. Budaya membanggakan kurang tidur seperti “aku cuma tidur dua jam semalam” juga
seharusnya tidak dinormalisasi.
Untuk mengurangi kebiasaan ini, mahasiswa perlu membangun pola belajar yang lebih
sehat. Mencicil tugas sejak awal, membuat to-do list, mengatur skala prioritas, serta
membatasi distraksi seperti scrolling media sosial dapat menjadi langkah sederhana
namun efektif. Menjaga jam tidur yang cukup juga penting agar tubuh dan pikiran tetap
optimal. Pada akhirnya, begadang demi deadline memang kadang membantu menyelesaikan
tugas. Namun, jika terus dinormalisasi, kebiasaan ini lebih dekat pada pola hidup toxic
daripada produktif. Menjadi mahasiswa bukan berarti harus terus-menerus
mengorbankan kesehatan demi tugas. Produktivitas yang baik seharusnya berjalan
seiring dengan keseimbangan hidup yang sehat.
DAFTAR PUSTAKA
Fahturosi, D. (2021). The Impact of Staying Up Late on Sleep Patterns and Health. Journal of Health Sketches, 4(2), 1-9
Nurlela, N. (2023). Studi Suasana Hati di Pagi Hari Pada Mahasiswa Yang Memiliki
Kebiasan Begadang Dengan Yang Tidak Begadang di Fakultas Ushuluddin Adab dan
Dakwah (Doctoral dissertation, IAIN Parepare).



