Resensi Film “film : Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?”

Judul film : Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?
Sutradara : Kuntz Agus
Produser : Ody Mulya Hidayat, Soemijato
Penulis : Oka Aurora, Kuntz Agus, Khoirul Trian
Produksi : Five Elements Pictures, Kults Creative
Durasi : 127 menit atau sekitar 1 jam 59 menit.
Pemeran : Mawar Eva de Jongh (Dira), Rey Bong (Darin), Dwi Sasono (Yudi), Unique
Priscilla (Lia), Baskara Mahendra (Bumi) dan banyak lagi.
Resentator: [Asri Fadlina Khosshoh]
“Menjadi ayah bukan tentang kesempurnaan dalam memimpin, melainkan tentang
bagaimana kehadiran yang tulus dan keberanian untuk tetap ada di tengah
ketidakpastian dapat menjadi arah bagi anak-anak yang kehilangan petunjuk.”

Film “Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?” mengisahkan kehidupan keluarga Yudi yang
menjalankan usaha “Soto Bu Lia.” Dira (Mawar Eva de Jongh), sebagai anak sulung, hidup
bersama ibunya Lia (Unique Priscilla) dan adiknya Darin (Rey Bong). Meski secara fisik ayah
mereka Yudi (Dwi Sasono) hadir, namun secara emosional ia absen memberikan arahan dan
dukungan dalam keluarga

Sebuah insiden ledakan kompor yang melukai parah Lia menjadi titik balik yang mengubah
segalanya. Dira dipaksa mengambil alih tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga,
mengurus adik, dan menggantikan peran ibunya. Di tengah beban tersebut, Dira terus bergumul
dengan pertanyaan eksistensial tentang arah hidupnya, sekaligus menghadapi kekecewaan
mendalam terhadap sosok ayah yang tidak dapat diandalkan secara emosional
Analisis Kondisi Psikologis Karakter Dira
Karakter Dira merepresentasikan fenomena psikologis kompleks yang dialami anak
perempuan pertama dalam dinamika keluarga disfungsional. Kondisi psikis Dira dapat
dianalisis melalui beberapa perspektif teoretis:
1. Teori Parentifikasi (Parentification Theory) – Boszormenyi-Nagy & Spark
Dira mengalami parentifikasi instrumental dan emosional yang berat. Parentifikasi
instrumental terlihat dari Dira yang harus mengambil alih tanggung jawab praktis keluarga—
bekerja, mengurus warung, menanggung biaya pengobatan ibu, dan membayar utang setelah
insiden ledakan kompor. Sementara parentifikasi emosional terjadi ketika Dira menjadi
penopang emosional bagi adik dan ibunya, sambil menekan kebutuhan dan perasaannya
sendiri.
Konsekuensi dari parentifikasi yang dialami Dira meliputi:
– Hilangnya masa perkembangan normal: Dira tidak memiliki ruang untuk menjalani fase
remaja dan eksplorasi identitas diri
– Beban tanggung jawab berlebihan: Harus menjadi “orang dewasa kecil” sebelum siap
secara psikologis
– Supresi kebutuhan pribadi: Impian dan keinginan pribadinya harus dikubur demi keluarga
2. Teori Kelekatan (Attachment Theory) – John Bowlby & Mary Ainsworth

Dira menunjukkan pola Insecure Attachment (kelekatan tidak aman), khususnya Anxious-
Preoccupied Attachment yang dipicu oleh ketidakhadiran emosional Yudi sebagai figur ayah.

Meski Yudi hadir secara fisik, ia tidak memberikan secure base atau safe haven yang
dibutuhkan Dira untuk berkembang.
Manifestasi insecure attachment pada Dira:

– Kecemasan eksistensial: Pertanyaan “Ayah, ini arahnya ke mana, ya?” merefleksikan
kebingungan dan ketidakamanan Dira akan arah hidupnya
– Kesulitan regulasi emosi: Dira memendam amarah dan kekecewaan terhadap ayah karena
tidak ada ruang komunikasi yang aman
– Hiperkewaspadaan: Dira harus selalu siaga menghadapi masalah keluarga tanpa dukungan
parental yang memadai
3. Teori Sistem Keluarga (Family Systems Theory) – Murray Bowen
Dalam perspektif sistem keluarga, Dira mengalami diferensiasi diri yang terhambat.
Ketidakhadiran emosional Yudi menciptakan emotional cutoff dalam sistem keluarga, di
mana Dira terpaksa mengambil alih fungsi parental yang seharusnya dijalankan ayah dan ibu.
Dinamika yang terjadi:
– Triangulasi: Dira terjebak dalam segitiga emosional antara kebutuhan ibu, perilaku
memberontak adik (Darin), dan ketidakhadiran ayah
– Overfunctioning: Dira menjadi overfunctioner yang mengambil terlalu banyak tanggung
jawab, sementara Yudi menjadi underfunctioner
– Transmisi trauma antargenerasi: Pola komunikasi yang buruk dan ketidakmampuan
mengekspresikan emosi diwariskan dalam sistem keluarga
4. Teori Peran Gender dan Beban Anak Perempuan Pertama
Dira menjadi representasi gendered parentification, di mana anak perempuan pertama
secara kultural diharapkan mengambil peran domestik dan pengasuhan. Film ini
menyoroti bagaimana ekspektasi sosial memaksa Dira menjadi surrogate mother yang
mengorbankan perkembangan individunya.
Aspek yang muncul:
– Emotional labor: Dira harus mengelola emosi sendiri sambil mendukung anggota keluarga
lain
– Invisible burden: Beban yang dipikul Dira sering tidak terlihat dan tidak diakui secara
memadai

– Role conflict: Konflik antara peran sebagai anak remaja dengan peran sebagai pengasuh dan
pencari nafkah
5. Teori Trauma Kompleks (Complex Trauma Theory)
Dira mengalami complex trauma yang berasal dari paparan berulang terhadap stresor
traumatis: ketidakhadiran emosional ayah, trauma insiden ledakan yang melukai ibu, beban
finansial, dan tekanan untuk dewasa sebelum waktunya .
Dampak trauma kompleks pada Dira:
– Emotional numbness: Kecenderungan mematikan emosi untuk bertahan
– Hypervigilance: Selalu waspada terhadap potensi masalah
– Disrupted sense of self: Kebingungan identitas dan arah hidup
– Difficulty with trust: Kesulitan mempercayai figur otoritas, terutama ayah.
Arah dan Pesan Film:
Film “Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?” mengarah pada kritik sosial terhadap fenomena
fatherless yang tidak hanya dimaknai sebagai ketiadaan fisik, tetapi lebih pada ketidakhadiran
emosional ayah dalam keluarga. Film ini menunjukkan bahwa kehadiran fisik tanpa
keterlibatan emosional dan komunikasi yang baik justru menciptakan luka psikologis
mendalam pada anak.
Melalui karakter Dira, film ini menyoroti realitas anak perempuan pertama yang sering kali
menjadi invisible caregiver mereka yang terpaksa dewasa lebih cepat, menanggung beban
keluarga, dan mengubur impian pribadi. Pertanyaan “Ayah, ini arahnya ke mana, ya?” bukan
sekadar dialog, melainkan metafora kehilangan bimbingan dan pencarian identitas di tengah
kekosongan figur parental.

Amanat
1. Pentingnya Kehadiran Emosional Ayah: Film ini menegaskan bahwa peran ayah bukan
sekadar kehadiran fisik, melainkan keterlibatan emosional, komunikasi terbuka, dan pemberian
arahan dalam keluarga. Ayah harus menjadi secure base bagi perkembangan psikologis anak.

2. Bahaya Parentifikasi pada Anak: Memaksa anak mengambil tanggung jawab dewasa
sebelum waktunya dapat menghambat perkembangan psikologis, menimbulkan trauma, dan
menciptakan pola hubungan disfungsional yang berpotensi terwariskan.
3. Komunikasi sebagai Fondasi Keluarga: Ketidakmampuan berkomunikasi secara terbuka
menciptakan jarak emosional yang merusak. Keluarga perlu membangun ruang aman untuk
dialog, ekspresi emosi, dan penyelesaian konflik.
4. Pengakuan atas Beban Anak Perempuan Pertama: Masyarakat perlu menyadari dan
mengakui beban tidak proporsional yang sering dipikul anak perempuan pertama dalam
keluarga, serta memberikan dukungan dan ruang bagi mereka untuk berkembang.
5. Pemutusan Rantai Trauma Antargenerasi: Pentingnya kesadaran untuk memutus pola asuh
disfungsional dan trauma antargenerasi melalui introspeksi, komunikasi, dan keberanian untuk
berubah.
6. Validasi Emosi dan Kebutuhan Individu: Setiap anggota keluarga, termasuk anak, berhak
atas validasi emosi dan pemenuhan kebutuhan psikologis. Mengabaikan hal ini hanya akan
menciptakan luka yang dalam dan berkepanjangan.
Kesimpulan
“Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?” berhasil menghadirkan potret jujur tentang dampak
psikologis ketidakhadiran emosional ayah pada perkembangan anak, khususnya anak
perempuan pertama. Melalui karakter Dira, film ini menyoroti kompleksitas parentifikasi,
trauma kompleks, dan pencarian identitas di tengah dinamika keluarga disfungsional. Film ini
menjadi pengingat penting bahwa setiap anak berhak atas bimbingan, validasi, dan ruang untuk
tumbuh sesuai fase perkembangannya bukan dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya.

FILM KELUARGA CEMARA (2018)

Judul/Film: Keluarga Cemara
Sutradara: Yandy Laurens
Penulis Naskah: Yandy Laurens, Alim Sudio, dan Visi Estu Astari (diadaptasi dari novel
karya Arswendo Atmowiloto)
Pemeran Utama: Ringgo Agus Rahman (Abah), Nirina Zubir (Emak), Adhisty Zara (Euis),
Widuri Puteri (Agus), Cut Mini Theo (Bibi Iis)
Produksi: Visinema Pictures, Kharisma Starvision Plus
Durasi: 111 menit
Tahun: 2018 (Rilis luas 2019)
Genre: Drama Keluarga
Resentator: [Asri Fadlina Khosshoh]

“Keluarga yang kuat bukan tentang kehidupan yang sempurna tanpa masalah,
melainkan tentang bagaimana empat orang yang kehilangan segalanya tetap bersama

dan menemukan kebahagiaan sejati di tengah kesederhanaan.”

Keluarga Cemara mengisahkan Abah dan Emak yang harus merelakan kehidupan mewah
mereka di Jakarta setelah tertipu investasi bodong. Mereka pindah ke sebuah desa kecil dan
tinggal di rumah tua peninggalan nenek moyang. Di tengah upaya orang tua untuk tetap
tersenyum dan membangun usaha sate, Euis, sang anak sulung yang berusia remaja, mengalami
gegar budaya dan syok psikologis yang berat. Terbiasa dengan kehidupan berkecukupan,
gengsi, dan fasilitas modern, Euis harus menghadapi realitas hidup yang serba terbatas, memicu
pemberontakan dan pergolakan batin yang mendalam sebelum akhirnya menemukan makna
kebahagiaan yang sesungguhnya
Analisis Kondisi Psikologis Karakter Euis
Karakter Euis merepresentasikan dinamika psikologis remaja yang mengalami perubahan
drastis pada lingkungan dan status sosial. Kondisi psikis Euis dapat dianalisis melalui beberapa
perspektif teoretis:
1. Teori Perkembangan Psikososial Erik Erikson (Identitas vs. Kebingungan Peran)
Euis berada pada fase remaja, di mana tugas perkembangan utamanya adalah membentuk
identitas diri (Identity vs. Role Confusion). Sebelumnya, identitas Euis sangat lekat dengan
status sosial, kekayaan, dan pengakuan lingkungan di Jakarta. Ketika harta keluarganya hilang,
fondasi identitas eksternal tersebut runtuh. Euis mengalami kebingungan peran (role
confusion) yang parah; ia tidak lagi tahu siapa dirinya tanpa label “anak orang kaya”.
Pemberontakannya di awal film adalah manifestasi dari krisis identitas ini, di mana ia menolak
realitas baru karena realitas tersebut mengancam proses pembentukan egonya.
2. Teori Tahapan Berduka (Grief Theory) Elisabeth Kübler-Ross
Meskipun biasanya diterapkan pada kematian, teori ini juga sangat relevan untuk menjelaskan
non-death loss (kehilangan non-kematian), seperti hilangnya status sosial, gaya hidup, dan rasa
aman. Euis melewati tahapan berduka atas hilangnya kehidupan lamanya:
Penyangkalan (Denial): Euis awalnya tidak percaya dan menolak kenyataan bahwa mereka
miskin, terus-menerus mengingat masa lalu.
Kemarahan (Anger): Euis melampiaskan frustrasinya dengan bersikap kasar, memberontak,
dan menyalahkan keadaan atau orang tuanya.
Tawar-menawar (Bargaining): Euis berusaha mencari cara agar bisa kembali ke kehidupan
lamanya atau menghindari tanggung jawab di desa.

Depresi (Depression): Muncul rasa sedih, putus asa, dan merasa terisolasi dari teman-teman
sebayanya.
Penerimaan (Acceptance): Di akhir film, Euis mulai menerima kondisi keluarganya dan
menemukan cara untuk beradaptasi serta menghargai kehidupan barunya.
3. Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow
Kondisi psikis Euis menunjukkan gangguan pada Kebutuhan Penghargaan (Esteem Needs).
Sebelum jatuh miskin, kebutuhan Euis akan rasa hormat, prestise, dan pengakuan dari orang
lain terpenuhi melalui barang-barang material. Kehilangan harta menyebabkan defisit pada
kebutuhan ini, memicu rasa malu, rendah diri, dan hilangnya kepercayaan diri. Film ini
menunjukkan bahwa ketika kebutuhan dasar (fisiologis dan rasa aman) keluarga terancam, Euis
secara psikologis belum siap untuk turun dari puncak hierarki kebutuhan yang biasa ia nikmati,
menciptakan disonansi kognitif yang berat.
4. Teori Konsep Diri (Self-Concept Theory) Carl Rogers
Euis pada awal film memiliki konsep diri yang bersyarat (conditional self-worth). Harga
dirinya sangat bergantung pada kondisi eksternal (materialisme dan penampilan). Ketika
kondisi eksternal tersebut hilang, terjadi inkongruensi (ketidaksesuaian) antara ideal self (diri
ideal yang ia bayangkan sebagai gadis populer dan kaya) dan real self (diri nyata sebagai gadis
desa yang sederhana). Pergolakan batin Euis adalah proses menyatukan kedua konsep diri ini
agar mencapai penerimaan diri yang utuh (unconditional self-acceptance).
Arah dan Pesan Film
Film “Keluarga Cemara” mengarah pada dekonstruksi nilai materialisme dalam keluarga
modern. Narasi film tidak hanya berfokus pada kemiskinan fisik, melainkan pada kemiskinan
emosional yang terjadi ketika kebahagiaan dikaitkan dengan harta. Melalui kacamata Euis, film
ini menunjukkan bahwa adaptasi terhadap perubahan hidup yang drastis membutuhkan proses
psikologis yang menyakitkan namun penting untuk pendewasaan. Arah cerita bergerak dari
resistensi dan penolakan, menuju resilensi (ketahanan) psikologis, dan diakhiri dengan
transformasi nilai di mana Euis menyadari bahwa kekayaan emosional dan keutuhan keluarga
jauh lebih berharga daripada status sosial.

Amanat
1. Kebahagiaan Tidak Bersifat Materialistik: Harta dan status sosial hanyalah fasilitas
eksternal. Kebahagiaan sejati dan ketenangan batin bersumber dari keutuhan keluarga, rasa
syukur, dan kemampuan mensyukuri apa yang dimiliki.
2. Pentingnya Resiliensi dalam Menghadapi Perubahan: Hidup penuh dengan ketidakpastian.
Kemampuan untuk beradaptasi, bangkit dari keterpurukan (resiliensi), dan menerima
kenyataan adalah kunci untuk bertahan dalam kondisi psikologis yang sehat.
3. Bahaya Mengaitkan Harga Diri dengan Materi: Membangun konsep diri dan identitas hanya
berdasarkan kekayaan atau pengakuan orang lain akan membuat seseorang rapuh. Harga diri
harus dibangun dari dalam (karakter, sikap, dan nilai diri).
4. Peran Orang Tua dalam Ketahanan Keluarga: Sikap Abah dan Emak yang tetap optimis,
saling mendukung, dan tidak menyalahkan satu sama lain di tengah krisis menjadi fondasi
psikologis yang akhirnya mampu menyembuhkan luka batin anak-anaknya.
5. Proses Berduka adalah Hal yang Wajar: Mengalami kemarahan, penolakan, dan kesedihan
saat kehilangan sesuatu yang berharga adalah respons psikologis yang manusiawi. Yang
terpenting adalah tidak terjebak selamanya dalam fase tersebut dan berani melangkah menuju
penerimaan.
Kesimpulan
“Keluarga Cemara” berhasil menyajikan drama keluarga yang hangat namun tajam dalam
membedah psikologi remaja. Melalui karakter Euis, film ini memotret secara akurat bagaimana
guncangan status sosial dapat memicu krisis identitas dan proses berduka yang kompleks pada
seorang remaja. Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan edukasi psikologis
tentang pentingnya membangun ketahanan mental, meredefinisi makna kekayaan, dan
menemukan jati diri yang tidak bergantung pada kondisi eksternal.