
Cerpen “KURSI PALING BELAKANG”
Mimpi tidak pernah memilih tempat duduk
“Anak belakang biasanya memang begitu.”
Kalimat itu kembali terdengar saat Bu Ratna membagikan hasil ulangan matematika di depan
kelas. Suasana kelas mendadak riuh oleh tawa kecil beberapa siswa ketika nama Aldo disebut
paling akhir.
“Aldo, nilaimu turun lagi.”
Aldo berjalan pelan dari kursi paling belakang menuju meja guru. Tangannya menerima
lembar ulangan yang dipenuhi coretan tinta merah. Nilai lima puluh terpampang jelas dipojok
kanan atas.
Ia Kembali duduk tanpa berkata apa-apa.
Beberapa siswa saling berbisik.
“Tidur terus sih di kelas.”
“Makanya jangan kebanyakan main.”
Aldo mendengar semuanya. Namun, seperti biasa ia memilih diam sambil menatap jendela
kelas yang mulai diguyur hujan.
❖
Tidak ada yang benar-benar mengenal Aldo.
Bagi teman-temannya, Aldo hanyalah anak pendiam yang selalu duduk di belakang, sering
terlambat, dan terlihat tidak bersemangat saat pelajaran dimulai.
Padahal setiap sore selepas sekolah, Aldo membantu ibunya berjualan gorengan di pinggir
jalan. Ayahnya sudah lama sakit sehingga tidak bisa bekerja lagi. Untuk menambah
penghasilan keluarga, Aldo sering mengantar pesanan hingga malam hari.
Kadang, ia baru mulai belajar ketika jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Dengan mata yang hampir tertutup, Aldo tetap memaksa dirinya membaca buku pelajaran di
bawah lampu kecil yang redup.
“Mungkin aku memang tidak sepintar mereka,” gumamnya suatu malam.
Namun jauh di dalam dirinya, Aldo memiliki mimpi yang tidak pernah ia ceritakan kepada
siapa pun.
Ia ingin menjadi guru.
Guru yang tidak mudah menilai murid hanya dari tempat duduknya.
❖
Hari-hari berlalu seperti biasa, hingga suatu pagi Bu Ratna memberikan pengumuman.
“Bulan depan sekolah akan mengadakan Olimpiade Matematika Tingkat kota. Setiap kelas
hanya boleh mengirim satu perwakilan.”
Seketika beberapa siswa langsung menunjuk Raka, murid terpintar di kelas mereka.
“Tentu Raka, Bu!”
“Pasti dia yang dipilih.”
Bu Ratna mengangguk kecil.
Namun sebelum pelajaran selesai, beliau memberikan soal latihan yang jauh lebih sulit dari
biasanya. Semua siswa diminta mengerjakannya di kelas.
Ruangan mendadak hening.
Lima belas menit berlalu.
Dua puluh menit berlalu.
Banyak siswa mulai menyerah.
Bahkan Raka terlihat mengernyit kebingunan.
Sementara di kursi paling belakang, Aldo menatap lembar soal dengan serius. Tangannya
bergerak perlahan menulis perhitungan demi perhitungan.
Bu Ratna memperhatikan dari kejauhan.
“Sudah selesai?” tanya Bu Ratna pelan.
Aldo mengangguk ragu lalu menyerahkan jawabannya.
Bu Ratna terdiam cukup lama saat memeriksa lembar milik Aldo. Semuanya jawabannya
benar.
❖
Keesokan harinya, suasanya kelas berubah.
Bu Ratna berdiri di depan kelas sambil membawa satu lembar kertas.
“Ibu sudah menentukan siapa yang akan mewakili kelas untuk olimpiade.”
Seluruh siswa menoleh pada Raka.
Namun, nama yang keluar justru membuat kelas mendadak sunyi.
“Aldo”
Beberapa siswa terlihat terkejut.
“Apa? Aldo?”
“Yang duduk di belakang itu?”
Bu Ratna menatap seluruh kelas dengan tenang.
“Kadang kita terlalu cepat menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat.”
Aldo menunduk. Untuk pertama kalinya sejak masuk sekolah itu, ia merasa benar-benar
dilihat.
❖
Hari perlombaan telah tiba.
Dengan seragam yang sedikit pudar, Aldo berjalan memasuki ruang olimpiade bersama
peserta dari sekolah lain. Tangannya dingin karena gugup.
Sebelum masuk, Bu Ratna menepuk pundaknya pelan.
“Jangan takut. Ibu percaya sama kamu.”
Selama ini, jarang ada orang yang benar-benar percaya padanya.
Dua jam kemudian perlombaan selesai.
Seminggu setelahnya, seluruh siswa dikumpulkan di aula sekolah untuk pengumuman
pemenang.
Kepala sekolah mulai membacakan juara satu sampai tiga.
“Juara pertama Olimpiade Matematika tingkat kota diraih oleh…”
Suasana aula mendadak hening.
“Aldo Putra Aksara dari SMP Harapan Bangsa!”
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Beberapa siswa yang dulu sering menertawakannya kini hanya terdiam.
Di atas panggung, Aldo menerima piala dengan mata berkaca-kaca. Dari kejauhan, ia melihat
Bu Ratna tersenyum bangga.
Untuk pertama kalinya , anak yang selalu duduk di kursi paling belakang itu berdiri di paling
depan.
❖
Sejak hari itu, tidak ada lagi yang memandang Aldo dengan sebelah mata.
Namun bagi Aldo, kemenangan terbesar bukanlah piala itu.
Melainkan kenyataan bahwa akhirnya ada orang yang mau memahami perjuangannya.
Karena tidak semuan anak yang duduk di kursi paling belakang datang untuk gagal.
Ada yang duduk di sana karena sedang berjuang lebih keras dari apa yang kita kira.
Menang bukan berarti selesai, kadang itu baru permulaan.
Piala itu diletakkan Aldo di atas meja belajarnya yang sempit, meja yang sama tempat ia
begadang, tempat ia membaca buku di bawah lampu kecil, tempat ia mennagis diam-diam
Ketika kelah tidak lagi bisa disembunyikan. Piala itu mengkilap di bawah cahaya redup
kamarnya, tapi Aldo tidak terlalu lama memandangnya.
Ada pesanan gorengan yang harus diantar malam itu.
Ibunya sudah bersiap di dapur ketika Aldo masuk ke dalam kamarnya. Perempuan itu
membalik tempe goreng dengan spatula, punggungnya selalu membungkuk. Tapi ketika
mendengar langkah Aldo, ia menoleh dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Aldo
melihat ibunya menangis sambil tersenyum.
“Ibu dengar dari Bu RT” kata ibunya pelan. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Aldo memeluk ibunya dari belakang. Spatula masih ada di tangan sang ibu, minyak masih
mendesis di wajan. Tapi keduanya diam sejenak di dapur kecil yang hangat itu, membiarkan
momen itu ada.
❖
Keesokan harinya, sekolah terasa berbeda.
Beberapa siswa yang dulu hanya meliriknya dari jauh kini menyapanya di koridor. Anak-
anak yang pernah berbisik “tidur terus sih di kelas” kini tiba-tiba ingin duduk di dekatnya
saat istirahat. Bahkan Raka, murid terpintar yang biasa jadi pusat perhatian kini
mengampirinya sebelum bel masuk bernyanyi.
“Hei, Al. Selamat ya.” Raka mengulurkan tangan. Wajahnya tulus, tidak ada bekas cemburu
di sana. “Jujur aku terkejut. Tapi… kamu memang layak.”
Aldo menjabat tangannya “Makasih, Ka.”
Singkat. Tapi cukup.
Yang tidak berubah, Aldo masih duduk di kursi paling belakang. Masih memilih pulang cepat
Ketika bel berbunyi. Masih membantu ibunya di sore hari, masih mengantar pesanan di
malam hari, masih belajar ketika kota sudah sunyi.
Bedanya sekarang, ada yang menemaninya yaitu sepucuk surat dari panitia olimpiade,
mengabarkan bahwa nilainya membuka jalan untuk mengikuti seleksi olimpiade tingkat
provinsi.
Aldo membaca surat itu tiga kali. Lalu melipatnya rapi dan menyimpannya di dalam buku
matematikannya di halaman yang sama dengan rumus yang pertama kali ia pahami sendiri,
tanpa bantuan siapa pun, di bawah lampu kecil yang redup.
❖
Suatu siang, Bu Ratna memanggilnya setelah jam Pelajaran usai.
Aldo berdiri di depan meja guru dengan tas yang masih tersampir di bahu, siap untuk segera
pulang. Tapi Bu Ratna tidak langsung bicara. Beliau menatapnya lama, seperti sedang
menyusun kata-kata yang sudah lama ingin disampaikan.
“Aldo” Akhirnya Bu Ratna berkata, “Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Aldo tahu maksudnya. Tentang ayah yang sakit. Tentang gorengan. Tentang malam-malam
itu.
“Tidak ada yang tanya, Bu” Jawabnya jujur. Bukan dengan marah. Bukan menyalahkan.
Hnaya jujur, seperti fakta cuaca.
Bu Ratna terdiam, kalimat itu sederhana, tapi beratnya tidak sederhana.
Beliau membuka laci mejanya dan mengambil sebuah amplop.
“Ini dari yayasan sekolah. Ada beasiswa untuk siswa berprestasi dengan kondisi keluarga
yang membutuhkan. Ibu sudah mengajukan namamu sejak minggu lalu.”
Aldo menatap amplop itu tanpa mengambilnya.
“Kenapa Bu Ratna mau bantu saya?”
Bu Ratna tersenyum, senyum yang berbeda dari senyum-senyum beliau di depan kelas.
Lebih pelan. Lebih sungguh-sungguh.
“Karena ibu terlambat melihatmu, Aldo. Dan ibu tidak mau terus terlambat.”
❖
Malam itu, Aldo duduk di samping Ayahnya yang sedang beristirahat.
Ayahnya tidak tidur, matanya terbuka, menatap langit-langit kamr dengan ekspresi yang
susah dibaca.
“Yah,” Kata Aldo pelan.
“Hmm.”
“Aldo mau jadi guru.”
Ayahnya tidak langsung menjawab. Tangannya yang kurus bergerak perlahan, mencari
tangan Aldo di sisi ranjang.
“Guru apa?”
“Matematika.” Aldo menelan ludah. “Tapi bukan guru yang cuma lihat nilai. Aldo mau jadi
guru yang mau tahu kenapa muridnya dapat nilai segitu.”
Ayahnya masih diam. Lalu, perlahan sudut bibirnya terangkat.
“Kamu pasti bisa,” kata Ayahnya. Suaranya serak, pelan, tapi tidak ada keraguan di sana.
“Karena kamu sudah tau rasanya berjuang tanpa ada yang lihat.”
Aldo mengangguk. Matanya hangat, tapi ia tidak menangis.
Karena malam itu bukan malam untuk menangis. Malam itu adalah malam pertama ia
mengucapkan mimpinya dengan keras, bukan hanya dalam hati, bukan hanya di halaman
buku yang tidak ada yang baca.
Dan kata-kata itu, begitu keluar, terasa seperti sesuatu yang sudah lama menunggu giliran
untuk hidup.
❖
Kursi paling belakang masih miliknya dan akan selalu menjadi miliknya. Bukan karena ia
tidak layak maju ke depan , tapi karena dari sanalah ia belajar melihat segalanya dengan
lebih jelas. Perjuangan tidak selalu butuh penonton. Dan mimpi tidak selalu butuh tepuk
tangan untuk terus tumbuh.
Aldo Putra Aksara, anak yang duduk di kursi paling belakang, sedang dalam perjalanan
yang masih panjang, penuh kerikil, tapi untuk pertama kalinya, ia berjalan dengan tahu ke
mana arahnya.
Dan itu lebih dari cukup.
Tamat



