Dongeng “Serigala dan Biri yang Menjadi Sahabat”

Di sebuah lembah hijau yang dikelilingi pegunungan tinggi, hiduplah seekor serigala
bernama Riko dan seekor biri-biri bernama Wulan. Mereka tinggal di desa yang sama,
tetapi tidak pernah sekali pun berbicara satu sama lain.
Riko selalu dipandang seram oleh hewan-hewan lain. Setiap kali ia berjalan melewati
ladang, semua biri-biri berlari ketakutan. Padahal, Riko sebenarnya adalah serigala yang
baik hati — ia hanya tidak tahu bagaimana caranya berteman.

* * *

Suatu hari, badai besar datang menghantam lembah. Hujan deras, petir menggelegar, dan
angin kencang merobohkan pohon-pohon besar.
Di tengah badai itu, Wulan si biri-biri terpisah dari kawanannya. Ia tersesat di dalam
hutan yang gelap dan dingin, menggigil ketakutan di bawah sebatang pohon besar.
Tiba-tiba, dua mata kuning bersinar dari balik semak. Wulan berteriak, “Toloooong!”
Namun, suara itu ternyata milik Riko sang serigala.
“Jangan takut,”kata Riko dengan suara pelan. “Aku tidak akan menyakitimu. Kamu
kedinginan, ya?”
Wulan gemetar — bukan hanya karena dingin, tapi juga karena takut. Tapi ia tidak punya
pilihan lain. Badai semakin kencang.

* * *

Riko mengajak Wulan berlindung di dalam gua kecil yang hangat. Ia mengumpulkan
daun-daun kering untuk alas tidur Wulan, dan berbagi makanan berupa buah-buahan
hutan yang ia temukan.

Semalaman mereka bercerita. Wulan terkejut mengetahui bahwa Riko suka melukis di
bebatuan dan bermimpi punya banyak teman. Riko pun terkejut mengetahui Wulan suka
berlari kencang dan bukan tipe biri-biri yang penakut — hanya saja badai tadi memang
sangat menakutkan!
Mereka tertawa bersama sampai larut malam.
* * *

Keesokan paginya, badai reda. Riko mengantar Wulan kembali ke kawanannya dengan
selamat.
Semua hewan di desa tercengang melihat serigala dan biri-biri berjalan berdampingan
sambil tertawa.
“Dia adalah temanku” kata Wulan kepada kawanannya.”Riko yang menyelamatkanku
semalam.”
Pelan-pelan, hewan-hewan lain pun mulai mengenal Riko yang sesungguhnya. Bukan
serigala yang menakutkan — melainkan serigala yang kesepian dan rindu berteman.
Sejak saat itu, Riko dan Wulan menjadi sahabat paling akrab di seluruh lembah. Setiap
sore, mereka duduk bersama di atas bukit, melihat matahari terbenam — seekor serigala
dan seekor biri-biri, membuktikan bahwa persahabatan sejati tidak melihat perbedaan.

Pesan Moral:
“Jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya. Semua orang — dan semua
hewan — berhak mendapatkan kesempatan untuk dikenal lebih dalam.”