Aku beruntung bisa ikut kursus bahasa Inggris sejak kecil. Terima kasih untuk orang tuaku, terutama Ibu, yang membukakan pintu itu. Lewat bahasa Inggris aku bisa menjelajah banyak hal tanpa terhalang bahasa. Tapi makin lama, ada yang terasa janggal.

Aku bisa membaca komik asing di internet, memahami artikel, dan berselancar tanpa kamus. Namun begitu diminta berbicara, kemampuanku seperti tertinggal di level pemula. Lidah menjadi kelu, kata-kata pun tersangkut di tenggorokan.

Bertahun-tahun kukira ada yang salah dengan cara belajarku. Sampai belakangan ini aku tahu teori pemerolehan bahasa punya penjelasan untuk kondisi ini, dan ternyata cukup banyak orang mengalaminya.

Input dulu, output belakangan

Stephen Krashen, linguis asal Amerika Serikat, mengajukan Input Hypothesis dalam bukunya Principles and Practice in Second Language Acquisition (1982). Intinya, orang memperoleh bahasa kedua ketika ia memahami pesan yang didengar atau dibacanya, dan input itu sebaiknya sedikit di atas kemampuannya saat ini. Krashen menyebutnya comprehensible input. Ia juga mencatat bahwa banyak pembelajar melewati masa diam sebelum mau berbicara.

Kalau kulihat ke belakang, ceritaku cocok dengan gambaran itu. Waktu kecil aku berjam-jam menonton kanal gim lokal seperti MiawAug, yang sering bermain gim dalam bahasa Inggris. Aku paham karena ada gambar, alur, dan suasana yang membantu menebak maknanya. Kemudian saat remaja, hobiku bergeser ke musik. Aku suka membedah makna lirik, dan untuk lagu-lagu Korea aku sengaja mencari video musik dengan takarir bahasa Inggris karena penasaran. Tidak ada yang memaksa; semuanya jalan sendiri.

Dengan kacamata Krashen, kemampuan bicara yang tertinggal itu bukan tanda gagal. Pemahamanku tumbuh lebih dulu karena memang itu yang kulatih paling banyak.

Tapi teori ini punya batas, dan aku merasa perlu jujur soal itu. Merrill Swain (1985), lewat penelitiannya pada murid program imersi bahasa Prancis di Kanada, menemukan bahwa banjir input saja tidak membuat orang lancar berbicara. Mereka perlu kesempatan untuk bicara dan menyusun kalimatnya sendiri. Jadi gambaran “wadah penuh yang akhirnya meluap” tidak sepenuhnya tepat. Input memberi bahan, tapi lidah tetap harus dilatih.

Kenapa belajar dari hiburan terasa ringan

Krashen juga mengusulkan Affective Filter Hypothesis, yang konsep dasarnya sudah diajukan Dulay dan Burt (1977). Kecemasan, rasa tidak percaya diri, dan motivasi yang rendah dianggap menjadi saringan yang menghalangi input masuk. Kalau belajar terasa seperti ujian, saringannya tinggi. Kalau terasa seperti hiburan, saringannya turun.

Penjelasan ini masuk akal bagiku. Tak ada yang menilai tata bahasaku saat aku menonton gim atau menerjemahkan lirik, dan aku tak takut salah. Hanya saja, para kritikus menilai hipotesis ini sulit diuji secara ketat, jadi anggap ia kerangka yang membantu berpikir, bukan hukum yang sudah terbukti.

Jadi, harus mulai dari mana?

Menurutku, mulai dari hal yang kita suka adalah awal yang sah. Lagu, gim, dan serial tidak perlu dianggap bahan belajar kelas dua. Tata bahasa tetap berguna, terutama untuk komunikasi formal dan tulisan, dan banyak penelitian menunjukkan pengajaran tata bahasa eksplisit membantu ketepatan berbahasa. Keduanya bisa jalan bersama.

Buat orang sepertiku, paham tapi gagap saat bicara, kelemahannya mungkin bukan di pemahaman. Yang kurang adalah jam terbang berbicara. Cari tempat berlatih yang tekanannya rendah, misalnya teman yang sama-sama belajar, rekaman suara sendiri, atau obrolan santai tentang hal yang kita sukai. Salah ucap itu wajar, dan bicara dulu baru dibetulkan lebih berguna daripada menunggu sempurna.

Daftar Pustaka

  • Krashen, S. (1982). Principles and Practice in Second Language Acquisition. Pergamon Press.
  • Swain, M. (1985). Communicative competence: Some roles of comprehensible input and comprehensible output in its development. Dalam S. Gass & C. Madden (Eds.), Input in Second Language Acquisition. Newbury House.
  • Dulay, H., & Burt, M. (1977). Remarks on creativity in language acquisition. Dalam M. Burt, H. Dulay, & M. Finocchiaro (Eds.), Viewpoints on English as a Second Language (hlm. 95–126). Regents.