Teras kayu rumah Pak Bobby tidak pernah benar-benar sepi tiap sore. Di anak tangga yang mulai berderit, tiga pasang sandal kecil berjajar rapi dengan ujung menghadap ke luar. Bian, sepuluh tahun, anak kandung Pak Bobby, sibuk merakit mainan dari kardus bekas, sementara Kanaya yang sebaya dengannya duduk di sebelahnya dan memegangkan gunting. Pak Bobby merawat Kanaya sejak ia masih balita. Ibunya pergi merantau ke luar kota untuk menafkahi anaknya setelah sang suami menghilang entah ke mana, dan Pak Bobby, yang tahu betul rasanya ditinggal dan berjuang sendirian sejak istrinya berpulang, membukakan pintu dengan senang hati. Baginya, merawat Kanaya seperti anak sendiri adalah cara menghormati mendiang istrinya.

Tak jauh dari mereka, di undakan semen teras rumah sebelah yang menempel dengan rumah Pak Bobby, duduk Tessa, juga sepuluh tahun. Ia menopang dagu dan memandangi Bian dan Kanaya dengan mata yang redup. Ibunya sudah menikah lagi dan ikut suami barunya ke kota lain, jadi Tessa tinggal berdua dengan ayahnya, yang sering pulang larut karena bekerja keras demi mengusir sepi.

“Tessa, sini! Jangan duduk di situ terus, nanti digigit nyamuk,” panggil Pak Bobby dari balik pintu. Ia keluar membawa nampan berisi tiga gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng yang baru diangkat. Tessa tersenyum tipis, bangkit, lalu menyeberang ke teras itu dengan langkah ragu. Di rumah ini, wangi pisang goreng dan teh hangat selalu terasa seperti pelukan.

“Ini pisang gorengnya. Bian, Kanaya, ajak Tessa makan,” kata Pak Bobby sambil mengusap puncak kepala Tessa. Tessa menunduk, matanya berkaca-kaca. Usapan sesederhana itu hampir tak pernah ia dapat di rumahnya sendiri.

Malamnya gerimis mulai mengetuk atap seng gang sempit itu. Ketiga anak duduk melingkar di karpet ruang tamu, di bawah lampu kuning yang temaram, sementara Pak Bobby dengan telaten menjahit tali tas sekolah Kanaya yang sobek.

“Bapak,” celetuk Kanaya pelan, “Ibu kapan pulang, ya? Tadi di sekolah teman-teman cerita, ibu mereka selalu nyiapin sarapan.”

Jarum di tangan Pak Bobby berhenti sebentar. Ia menatap Kanaya setenang yang ia bisa.

“Ibumu lagi berjuang jauh di sana, Nak, supaya Kanaya bisa terus sekolah. Tapi ingat kan kata Bapak? Di rumah ini kasih sayang Bapak cukup buat Bian dan Kanaya. Kamu nggak pernah sendirian.”

Bian mengangguk mantap. “Iya, Kanaya! Kalau kangen Ibu, cerita aja sama aku. Aku juga udah nggak punya Ibu, tapi kita punya Bapak yang hebat!”

Tessa, yang duduk di sudut karpet, mendengarkan semua itu, dan dadanya yang sesak mendadak terasa sedikit longgar. “Kalau aku, Ibu masih ada,” bisiknya, hampir tak terdengar, “tapi rasanya kayak nggak punya.”

Pak Bobby menggeser duduknya mendekat, meletakkan jahitannya, dan merangkul bahu kecil itu. “Tessa, dengerin Bapak ya. Dunia kadang berat dan bikin hati sakit. Tapi rumah ini selalu terbuka buat kamu. Mau makan, mau belajar, atau cuma mau nangis, teras Bapak ada. Kalian bertiga anak-anak Bapak.”

Tahun-tahun lewat. Tiga anak yang dulu berbagi satu piring pisang goreng kini sudah remaja. Suatu sore menjelang akhir masa SMP, sebuah mobil travel berhenti di mulut gang, dan seorang perempuan turun membawa tas besar. Wajahnya letih, tetapi matanya penuh rindu. Ia ibu Kanaya, pulang setelah bertahun-tahun merantau, dengan modal yang cukup untuk membuka usaha sendiri di kampung.

Tangis pecah di teras Pak Bobby sore itu. Kanaya memeluk ibunya erat-erat dan menumpahkan rindu yang terpendam bertahun-tahun, sementara sang ibu berulang kali bersujud dan berterima kasih kepada Pak Bobby, yang telah menjaga putrinya hingga tumbuh santun dan pintar.

Dari balik pintu, Tessa dan Bian menyaksikannya sambil tersenyum haru. Tessa tak lagi iri, tak lagi merasa sendirian. Ibunya memang tidak kembali dan ayahnya tetap sibuk, tapi ia tahu ia tidak benar-benar kehilangan: ada Bian yang selalu menjaganya seperti saudara, Kanaya tempat ia berbagi cerita, dan Pak Bobby yang sudah ia anggap ayahnya sendiri.

Sebelum matahari tenggelam, Pak Bobby mengajak mereka semua duduk di teras. Ia memandang ketiga anak itu dan ibu Kanaya. “Lihat,” katanya. “Keluarga itu orang-orang yang hatinya selalu ada buat kita, siapa pun yang darahnya sama.”

Di teras kayu yang sederhana itu, di bawah lampu luar yang mulai dikerumuni laron, tiga anak dengan masa kecil dan luka yang berbeda menemukan jawaban yang sama: mereka sudah sampai di tempat yang benar-benar bisa mereka sebut rumah.