
Jam dinding Nenek berhenti di angka 04.10. Bandulnya diam, begitu juga dengan jarumnya. Arum meletakkan jam itu dalam kardus bekas mi instan, dipelunya sepanjang gang menuju Pasar Lawas. Gerimis turun tipis. Sudah sembilan hari sejak Nenek dimakamkan, rumah masih berbau serai dan sabun colek, dan hanya jam di dapur yang tidak ikut berubah, seperti tertinggal di satu menit yang sama.
Kios reparasi Pak Wiryo sempit, selebar dua kursi. Dindingnya penuh jam dari segala ukuran, semuanya berdetak tidak serempak, mirip hujan di atas seng.
“Rusak sejak kapan?” tanya Pak Wiryo tanpa mengangkat kepala.
“Sejak malam Nenek dibawa ke rumah sakit, Pak.”
Ia membuka punggung jam dengan obeng sekecil jarum pentul, memutar roda-rodanya, meniup debu, lalu meneteskan minyak setitik ke as. Dua puluh menit kemudian jam itu berdetak.
“Tidak ada yang rusak, Nak. Pegasnya sehat. Bawa pulang.” Ia menolak dibayar.
Arum pulang dengan jam yang berdetak di pelukannya, menggantungnya kembali di paku yang sama, dan untuk pertama kalinya dalam sembilan hari dapur itu terasa bernapas. Tapi esoknya jam itu berhenti lagi, tepat pukul 04.10. Arum memutar kuncinya, menggoyang bandulnya, mengetuk kacanya; jam itu berdetak sebentar lalu mati. Begitu dua hari berturut-turut.
Di hari ketiga ia kembali ke pasar dengan kardus yang sama dan mata yang lebih sembab. Pak Wiryo menyalakan senter kecil, memeriksa sekali lagi, lalu meletakkan obengnya.
“Jam ini tidak salah apa-apa.” Ia diam cukup lama. “Nenekmu bangun jam berapa?”
“Jam empat, Pak. Membuat klepon untuk dititipkan di warung Bu Tin.”
“Klepon Bu Laras,” kata Pak Wiryo, dan baru sekarang ia tersenyum. “Empat puluh tahun saya buka kios ini sebelum subuh. Jam empat lewat sepuluh, bau pandan rebusannya sudah sampai sini. Jam tangan saya pun saya cocokkan dengan bau itu.” Ia menutup punggung jam dan menyerahkannya kembali. “Jam bisa berhenti karena besinya. Ada juga yang berhenti karena tidak ada yang bangun untuknya.” Arum tidak mengerti. Kalimat itu ia bawa pulang juga, bersama jamnya.
Malam itu ia terbangun tanpa alarm, tepat pukul 03.50. Rumah gelap. Dari dapur tidak terdengar apa-apa, dan baru sekarang ia sadar betapa besar sunyi yang ditinggalkan sebuah detak. Ia beranjak, menyalakan lampu kecil di atas kompor. Tepung ketan ada di rak, daun pandan di kulkas, gula merah di toples kaca. Resepnya tidak pernah ditulis. “Tangan yang ingat, Rum, bukan kertas,” kata Nenek dulu.
Adonan pertama terlalu lembek, dan klepon pertama pecah di air mendidih, gulanya larut jadi awan cokelat. Yang kedua bocor. Yang ketiga bulat, hijau, kokoh seperti telur burung. Uap mulai menempel di kaca jendela, dapur menghangat, dan tangan Arum hijau sampai pergelangan, warna yang sama dengan tangan Nenek.
Saat adonan ketiga itu berhasil, jam di dinding mendadak berdetak. Tik. Arum menoleh. Tik, tik. Jarum menitnya bergeser ke 04.11, seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang. Arum tertawa dengan tangan gemetar, dan tepung ketan beterbangan dari jarinya. Hari sebenarnya sudah hampir pukul lima, tapi jam itu bersikeras bahwa baru pukul empat lewat sebelas. Arum membiarkannya; ia tahu kapan sebuah hari dimulai.
Ketika langit memucat, ia membawa sebaki klepon yang bentuknya tidak seragam ke pasar. Kios Pak Wiryo baru setengah terbuka. Pak Wiryo mengambil satu, menggigitnya, dan gula merah meletus di mulutnya. Ia memejamkan mata lama sekali.
“Kurang garam sejumput,” katanya. “Tapi baunya sudah sampai sini sejak tadi.”
Arum tertawa, matanya basah. “Jamnya telat setengah jam lebih, Pak. Tapi berdetak.”
“Biar saja. Jam yang baik tidak harus tepat. Cukup tahu untuk siapa ia berdetak.”
Sejak itu Arum selalu memasang alarm pukul 03.50. Pernah sekali ia kesiangan, dan jam itu langsung berhenti di 04.10. Ia tidak menggerutu; ia hanya minta maaf pada dapur yang kosong, lalu menyalakan kompor. Detak jam itu pulang sebelum air di panci mendidih. Jam itu tidak pernah rusak. Ia hanya menunggu ada yang bangun untuknya.
