
PGMI UIN Walisongo Online, Semarang — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang di kancah nasional. Di tengah kesibukan perkuliahan yang padat, tiga mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) berhasil keluar sebagai Juara 1 Nasional dalam ajang Lomba Esai Pentas Seni dan Lomba Bulan Bahasa (PSBB) Universitas Lampung Tahun 2026 yang diumumkan pada 22 Oktober 2026.
Tim tangguh tersebut digawangi oleh Ida Safitri sebagai ketua tim, didampingi dua anggotanya, Dhea Firdasari dan Fitri Khoirun Ni’mah. Mereka sukses memukau dewan juri nasional lewat gagasan cemerlang bertajuk “RAGAMASA (RAGAM BAHASA NUSANTARA): PLATFORM DIGITAL INTERAKTIF PELESTARIAN BAHASA DAERAH UNTUK MENUMBUHKAN KEBANGGAAN DAN PERSATUAN PEMUDA NUSANTARA”.
Berangkat dari Keprihatinan Krisis Bahasa Daerah
Inovasi RAGAMASA lahir dari keprihatinan mendalam atas derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang membuat generasi muda kian meninggalkan bahasa daerahnya sendiri, serta lebih memilih menggunakan bahasa asing atau bahasa gaul. Sebagai calon pendidik dasar, ketiga mahasiswi ini merasa terpanggil secara moral dan pedagogis untuk menghadirkan solusi konkret.
Melalui RAGAMASA, mereka merancang platform edukatif digital interaktif yang mengintegrasikan kekayaan bahasa daerah agar pelestarian budaya tidak lagi dianggap sebagai kewajiban yang kaku, melainkan bertransformasi menjadi gaya hidup digital harian anak muda. Platform ini dilengkapi fitur unggulan seperti Streak System untuk latihan harian, Kisah Ragam berbasis video dual-subtitle dengan karaoke highlight text, serta skema Crowdsourcing Terverifikasi bersama penutur asli (native speaker).
Perjuangan Mandiri dan Maraton 24 Jam Jelang Final
Di balik kesuksesan menyabet Juara 1 Nasional, tersimpan kisah perjuangan yang luar biasa berat. Seluruh rangkaian persiapan lomba ini diselesaikan secara mandiri dalam waktu yang sangat singkat, yakni hanya tiga minggu.
Persiapan terbagi dalam tiga fase ketat: minggu pertama untuk riset dan pengumpulan data, minggu kedua untuk perumusan fitur dan analisis SWOT, serta minggu ketiga untuk penulisan naskah esai. Ujian mental terberat pun tiba ketika tim dinyatakan lolos sebagai 6 finalis terbaik. Panitia hanya memberikan waktu persiapan selama 1 hari (24 jam) maraton untuk menyusun slide presentasi, membagi peran, dan melatih ketepatan waktu presentasi selama 7 menit serta 3 menit tanya jawab secara daring.
“Meskipun kami berjuang murni secara mandiri tanpa bimbingan maupun dukungan finansial dari kampus, semangat tim dan doa teman-teman menjadi energi utama kami. Keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya terbaik bagi bangsa,” ungkap perwakilan tim.
Momen Menegangkan Pengumuman Juara
Cerita paling unik terjadi pada hari babak final diselenggarakan secara online. Selesai mempresentasikan gagasan di hadapan dewan juri, Ida dan Fitri harus langsung bergegas kembali ke kampus untuk mengikuti jadwal perkuliahan, sementara Dhea tetap siaga mendengarkan jalannya penutupan acara.
Saat nama UIN Walisongo Semarang diumumkan keluar sebagai Juara 1 Nasional, Dhea langsung mengirimkan pesan penuh kejutan kepada rekan-rekannya di kampus. Seketika itu pula, rasa haru, sujud syukur, dan tangis kebahagiaan pecah di lingkungan kampus UIN Walisongo Semarang. Seluruh lelah dari proses riset kilat, latihan maraton, hingga kerja keras tanpa bimbingan terbayar tuntas dengan pencapaian tertinggi di tingkat nasional.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa dedikasi tinggi, kerja sama tim yang solid, serta kepekaan dalam membaca problem sosial di masyarakat mampu membawa mahasiswa UIN Walisongo Semarang berdiri di panggung juara tertinggi. Tim RAGAMASA berharap inovasi ini ke depannya dapat dikembangkan secara nyata untuk diterapkan di sekolah-sekolah demi menjaga kelestarian bahasa daerah Nusantara.
