Artikel Opini & Esai “Fenomena Begadang Demi Deadline Tugas: Produktif atau Kebiasaan Toxic? & Kuliah Sambil Healing: Kebutuhan atau Trend?”

Begadang demi menyelesaikan tugas sudah menjadi fenomena yang sangat umum di kalangan mahasiswa. Kalimat seperti “nanti malam aja kerjainnya” atau “deadline besok, gas SKS!” seolah menjadi bagian dari kehidupan kampus sehari-hari. Tidak sedikit mahasiswa yang menganggap begadang sebagai hal wajar, bahkan sebagai simbol perjuangan akademik. Padahal, kebiasaan ini menimbulkan pertanyaan penting, apakah begadang benar-benar membuat mahasiswa lebih produktif, atau justru menjadi kebiasaan toxic yang perlahan merugikan?

Ada berbagai faktor yang menyebabkan mahasiswa sering begadang. Salah satunya adalah banyaknya tugas dengan deadline yang berdekatan. Dalam satu minggu, mahasiswa bisa menghadapi presentasi, laporan praktikum, makalah, bahkan revisi tugas sekaligus. Kondisi ini sering diperparah oleh kebiasaan menunda pekerjaan atau prokrastinasi. Banyak mahasiswa merasa masih punya waktu, hingga akhirnya memilih menyelesaikan semuanya dalam semalam melalui budaya yang dikenal sebagai SKS (Sistem Kebut Semalam).

Penelitian berjudul “Studi Suasana Hati di Pagi Hari pada Mahasiswa yang Memiliki Kebiasaan Begadang dengan yang Tidak Begadang” oleh Nurlela dkk., mengungkapkan bahwa beberapa mahasiswa merasa malam hari adalah waktu paling ideal untuk bekerja. Suasana yang lebih tenang, minim gangguan, dan sedikit distraksi membuat mereka merasa lebih fokus. Penelitian mengenai kebiasaan begadang pada mahasiswa menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa memang memiliki persepsi bahwa begadang membantu meningkatkan fokus dalam menyelesaikan tugas akademik.

Dari sudut pandang tertentu, begadang memang terlihat produktif. Tugas selesai tepat waktu, materi presentasi rampung, dan deadline berhasil dilewati. Bagi mahasiswa yang aktif di organisasi atau bahkan bekerja sambil kuliah, malam hari terkadang menjadi satu-satunya waktu untuk belajar. Hal ini membuat begadang sering dianggap sebagai strategi bertahan dalam ritme kehidupan kampus yang padat. Namun, produktivitas jangka pendek tidak selalu berarti baik untuk jangka panjang. Di balik tugas yang selesai, ada konsekuensi yang sering diabaikan. Kurang tidur dapat menurunkan konsentrasi, mengurangi daya ingat, dan menurunkan kemampuan berpikir kritis. Penelitian lain menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan penurunan performa akademik mahasiswa (Fahturosi, D., 2021).

Mahasiswa yang kurang tidur cenderung lebih mudah lelah, sulit fokus saat kuliah, serta mengalami perubahan suasana hati seperti mudah marah atau stres. Jika kebiasaan ini terus berlangsung, risiko gangguan kesehatan fisik dan mental pun meningkat. Pola tidur yang buruk pada mahasiswa berkorelasi dengan tingkat stres yang lebih tinggi dan kesehatan psikologis yang menurun. Ironisnya, tugas yang dikerjakan semalaman belum tentu menghasilkan kualitas terbaik. Saat tubuh lelah, kemampuan otak dalam menganalisis dan menyusun ide juga menurun.  Akibatnya, hasil pekerjaan sering kali kurang maksimal meskipun waktu yang dihabiskan sangat banyak.

Begadang sesekali karena situasi mendesak masih bisa dimaklumi. Saya percaya ada beberapa kondisi tertentu yang memang sulit dihindari. Namun, ketika begadang berubah menjadi rutinitas, hal ini tidak lagi bisa disebut produktif. Kebiasaan tersebut justru menunjukkan adanya masalah dalam manajemen waktu dan pengelolaan prioritas. Budaya membanggakan kurang tidur seperti “aku cuma tidur dua jam semalam” juga seharusnya tidak dinormalisasi.

Untuk mengurangi kebiasaan ini, mahasiswa perlu membangun pola belajar yang lebih sehat. Mencicil tugas sejak awal, membuat to-do list, mengatur skala prioritas, serta membatasi distraksi seperti scrolling media sosial dapat menjadi langkah sederhana namun efektif. Menjaga jam tidur yang cukup juga penting agar tubuh dan pikiran tetap optimal.

Pada akhirnya, begadang demi deadline memang kadang membantu menyelesaikan tugas. Namun, jika terus dinormalisasi, kebiasaan ini lebih dekat pada pola hidup toxic daripada produktif. Menjadi mahasiswa bukan berarti harus terus-menerus mengorbankan kesehatan demi tugas. Produktivitas yang baik seharusnya berjalan seiring dengan keseimbangan hidup yang sehat.