PGMI UIN Walisongo Online, Semarang – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Kali ini, Shabrinaya Az Zahra, mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), berhasil mengukir namanya sebagai Top 10 Duta Generasi Berencana (Genre) Jawa Tengah (27/7/2026).

Di balik pencapaian gemilangnya, dara yang akrab disapa Aya ini menyimpan kisah perjuangan yang inspiratif. Berasal dari keluarga sederhana di Kabupaten Wonogiri—dengan sang ayah bekerja sebagai buruh dan ibu sebagai ibu rumah tangga—tidak menyurutkan semangat Aya untuk terus mengejar mimpi.

Berkat dukungan beasiswa dari pemerintah daerah serta doa kedua orang tuanya, Aya membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah halangan untuk berprestasi dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Inovasi RUMAKSA: Solusi Nyata Cegah Pernikahan Dini di Wonogiri

Keberhasilan Aya menembus jajaran Top 10 Duta Genre Jawa Tengah tidak diraih dengan instan. Ia mengusung sebuah gagasan inovatif bernama RUMAKSA (Remaja Unggul Mandiri Karep lan Santun) yang dilatarbelakangi oleh persoalan nyata di daerah asalnya. Berdasarkan data yang dihimpunnya, terdapat 42 remaja di Wonogiri yang mengajukan dispensasi kawin, mayoritas disebabkan oleh kehamilan di luar nikah.

“Data tersebut menjadi perhatian besar bagi saya karena menunjukkan bahwa masih banyak remaja yang membutuhkan edukasi mengenai perencanaan kehidupan, kesehatan reproduksi, serta pengembangan potensi diri,” ungkap Aya.

Program RUMAKSA dirancang secara komprehensif melalui tiga pilar utama.

Rumaksa.id: Media edukasi berbasis sosial media yang menyajikan konten informatif seputar kehidupan remaja.

Rumaksa Gamelab: Mini game edukatif dan workshop untuk membantu remaja mengenali minat dan bakat mereka.

Rumaksa Srawung: Kegiatan sosialisasi langsung dengan pendekatan teman sebaya (peer group) agar materi lebih mudah diterima.

Tantangan Perjalanan dan Manajemen Waktu yang Ketat

Proses seleksi Duta Genre Jawa Tengah tentu menyisakan cerita perjuangan tersendiri bagi Aya. Tantangan terbesarnya adalah harus membagi waktu antara kuliah di Semarang dan pelaksanaan program pengabdian di Kabupaten Wonogiri.

Hampir setiap minggu, bahkan terkadang dua kali dalam seminggu, ia harus melakukan perjalanan pulang-pergi (PP) Semarang–Wonogiri. Tidak jarang ia harus merampungkan tugas-tugas kuliah di tengah perjalanan atau di sela-sela kesibukan program sosialnya.

“Pernah ada rasa lelah dan ingin menyerah, tetapi saya selalu mengingat kembali tujuan awal untuk memberikan manfaat bagi remaja, serta teringat perjuangan dan doa orang tua,” kenang mahasiswi berprestasi ini.

Untuk menyiasati kesibukan padatnya, Aya mengandalkan aplikasi Notes dan Google Calendar guna menyusun seluruh agendanya secara rapi. Ia juga membiasakan diri menetapkan deadline pribadi lebih awal agar hasil pekerjaannya maksimal dan tidak menunda-nunda pekerjaan.

Aktif Berorganisasi Tanpa Melupakan Akademik

Kesuksesan Aya di ajang Duta Genre tidak lepas dari rekam jejak organisasinya yang kaya. Selama berkuliah, ia aktif di berbagai wadah pengembangan diri, di antaranya: Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PGMI (Pernah menjabat sebagai Koordinator Bidang Komunikasi dan Informasi); Walisongo Campus Ambassador (WCA) dan meraih penghargaan sebagai Duta Inspiratif; Wakil Kepala Divisi Media dan Informasi Ikatan Mahasiswa Berprestasi (IMAPRES) Wonogiri; Aktif dalam kegiatan kerelawanan NAYS serta Forum Genre Kabupaten Wonogiri.

Bagi Aya, organisasi dan akademik bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan wadah yang saling melengkapi untuk membentuk kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama tim.

Pesan untuk Generasi Muda UIN Walisongo

Menutup kisahnya, Aya menitipkan pesan motivasi bagi seluruh mahasiswa UIN Walisongo agar senantiasa berani keluar dari zona nyaman. Ia berharap pencapaiannya dapat memantik semangat mahasiswa lainnya untuk tidak takut mencoba dan terus menorehkan prestasi.

“Jangan pernah takut mencoba dan keluar dari zona nyaman. Masa perkuliahan bukan hanya tentang nilai yang baik, tetapi juga tentang membentuk karakter dan memperluas relasi. Jangan takut gagal, karena kegagalan adalah bagian dari proses menuju keberhasilan,” pesan Aya penuh semangat.