Pernahkah kita merasa bersalah gara-gara seharian tidak mengerjakan apa pun? Hari libur sudah dipakai rebahan, tapi pikiran terus menagih: tugas belum dicicil, CV belum diperbarui, teman sudah ikut lomba dan mencari pengalaman magang. Istirahat yang seharusnya melegakan berubah jadi sidang kecil di kepala sendiri.

Perasaan ini sering disebut productivity guilt, yaitu rasa bersalah karena merasa tidak cukup produktif. Istilahnya populer di media dan obrolan sehari-hari, bukan diagnosis medis, tetapi pengalamannya akrab bagi banyak mahasiswa: nilai diri pelan-pelan diukur dari seberapa penuh jadwal kita.

Perasaan yang sama pernah dituangkan BTS, grup musik asal Korea Selatan, ke dalam lagu. Pembaca tidak perlu mengenal mereka untuk mengikuti tulisan ini. Bayangkan saja dua lagu yang bicara soal lelah dan cemas, lalu kita lihat apa yang bisa dipetik.

“Disease”: ketika berhenti bekerja terasa seperti sakit

“Disease” dirilis tahun 2020 dalam album BE. Judulnya ditulis “Dis-ease”, permainan kata yang bisa dibaca sebagai ketidaknyamanan. J-Hope, anggota BTS yang ikut menciptakan lagu ini, bercerita di majalah Weverse bahwa idenya muncul ketika tur mereka tertunda karena pandemi. Sebelumnya ia sering bilang butuh libur. Begitu waktu kosong benar-benar datang, ia malah ingin bekerja, dan ia bertanya-tanya apakah itu semacam penyakit akibat pekerjaan.

Di kampus, saya sering melihat teman yang menganggap istirahat sama dengan malas, lalu akhirnya kelelahan sendiri. Pola ini biasa disebut hustle culture: anggapan bahwa sibuk terus adalah tanda kita berharga. Kita rajin bukan selalu karena cinta pada pekerjaannya; kadang kita hanya takut tertinggal. Takut yang dipelihara lama bisa berubah jadi stres menahun dan menggerus rasa senang kita sendiri.

“So What”: menepis pikiran yang berputar

“So What” sebenarnya lebih tua dari “Disease”. Lagu ini dirilis pada 2018 dalam album Love Yourself: Tear, jadi keduanya bukan satu cerita berurutan; saya sendiri yang membacanya berdampingan. Nadanya lantang dan bebas, dan liriknya bisa dibaca sebagai sikap cuek terhadap tekanan dan omongan orang. Itu menurut saya, bukan penjelasan resmi BTS.

Mahasiswa akrab dengan kecemasan semacam itu: takut gagal ujian, takut sulit mencari kerja, takut dinilai orang. Psikolog menyebut kebiasaan memutar pikiran buruk berulang-ulang tanpa menemukan jalan keluar sebagai rumination. Bertanya “lalu kenapa?” tidak menghapus masalah, tapi bisa mengecilkan bobot kekhawatiran yang dibesar-besarkan. Perlu saya tegaskan, ini hanyalah pandangan saya sebagai pendengar, bukan metode terapi.

Gagal dalam satu ujian atau mengambil jeda sehari bukan akhir segalanya. Kita boleh salah dulu, lalu memperbaikinya.

Untuk calon guru

Sebagai mahasiswa PGMI, kita sedang disiapkan menjadi guru Madrasah Ibtidaiyah. Guru yang terbiasa menghukum dirinya sendiri karena beristirahat bisa saja membawa pola itu ke kelas, lewat target yang kaku dan toleransi yang kecil pada kesalahan murid. Ini kecenderungan, bukan aturan. Namun belajar berhenti sejenak dengan tenang adalah bekal yang layak dimiliki sebelum berdiri di depan anak-anak.

Langkahnya bisa kecil: sepakati satu jam dalam sehari tanpa tugas dan tanpa rasa bersalah. Kalau cemas dan lelah terus-menerus sampai mengganggu kuliah atau tidur, temui konselor kampus atau bicara dengan orang yang kita percaya. Karena mendengarkan lagu saja tidak dapat menggantikan bantuan itu.

Istirahat bukan penyakit yang harus disembuhkan. Ia kebutuhan tubuh dan pikiran. Jadi kalau besok tuntutan kembali membuat kita cemas, kita boleh menarik napas dan bertanya pada diri sendiri: lalu kenapa?