PGMI UIN Walisongo – Sebuah prestasi membanggakan sekaligus reflektif datang dari salah satu mahasiswa program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Walisongo Semarang. Abdur Rouf, mahasiswa angkatan 2023 asal Purbalingga, berhasil menyabet Juara 3 dalam ajang Lomba Esai tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh DEMA FTIK UIN Walisongo Semarang baru-baru ini (6/5/2026).

Bukan sekadar mengejar piala, Rouf membawa isu yang cukup berani dan krusial di dunia akademik, yakni fenomena joki tugas.

Kritik terhadap Normalisasi Kecurangan

Melalui esainya yang berjudul “Joki Tugas di Era Merdeka Belajar: Cerminun Ketimpangan Pendidikan, Krisis Kemandirian Belajar, dan Urgensi Reformasi Literasi Akademik”, Rouf menyoroti betapa joki tugas telah dianggap lumrah di kalangan mahasiswa.

“Banyak sekali mahasiswa yang menggunakan joki, bahkan sampai skripsi. Jika gelar S1 bisa didapat semudah membayar uang tanpa usaha memahami materi, ini adalah ancaman besar bagi kualitas pendidikan kita,” ungkap mahasiswa semester 6 ini.

Sebagai calon guru di PGMI, Rouf merasa gelisah melihat rekan sejawat yang hanya ingin “terima jadi”. Ia menekankan bahwa jika perilaku instan ini dibiarkan, maka karakter kejujuran di jenjang pendidikan dasar seperti SD atau MI nantinya akan terancam.

Berawal dari Pengalaman Pribadi

Menariknya, motivasi terbesar Rouf menulis esai ini lahir dari kejujuran yang luar biasa. Ia mengaku pernah berada di sisi lain sebagai penyedia jasa joki tugas.

“Jujur saja, saya pernah menjadi pelaku joki tugas bagi orang lain. Dari pengalaman itulah saya meriset dan menyusun argumen selama tiga hari agar tulisan ini tidak sekadar subjektif, tapi berlandaskan data dan penelitian yang ada,” tuturnya.

Meski sempat merasa minder bersaing dengan mahasiswa dari berbagai universitas ternama lainnya di Jawa Tengah, Rouf membuktikan bahwa kualitas gagasan dan relevansi isu mampu membuatnya berdiri di panggung juara.

Solusi dan Harapan ke Depan

Dalam tulisannya, Rouf menawarkan solusi konkret berupa ketegasan institusi pendidikan. Ia mendesak kampus untuk tidak menyepelekan praktik perjokian agar mahasiswa tidak merasa aman melakukan kecurangan di bawah radar dosen.

Pencapaian ini juga memicu rencana besar bagi Rouf. Berangkat dari pengalamannya melihat banyak format tugas yang tidak beraturan saat ia menjadi joki dahulu, Rouf bertekad ingin menulis buku tentang dasar-dasar penggunaan Microsoft Word bagi mahasiswa.

“Saya ingin ada lebih banyak seminar tentang format kepenulisan yang benar, bukan hanya soal isinya saja,” tambah mahasiswa yang mengaku mendapat dorongan semangat dari teman di kelas sebelah ini.

Pesan untuk Rekan Mahasiswa

Menutup perbincangan, Rouf memberikan pesan penyemangat bagi seluruh mahasiswa UIN Walisongo, khususnya di jurusan PGMI.

“Kalian bisa kok menjadi penulis hebat. Kita sama-sama manusia, sama-sama makan nasi. Ubah pola pikir dari ‘Kalau mereka bisa kenapa harus kita’ menjadi ‘Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak bisa?’,” pungkasnya dengan semangat.

Kemenangan Rouf menjadi pengingat bagi seluruh sivitas akademika bahwa prestasi sejati lahir dari integritas, bukan dari hasil instan yang dibeli dengan uang.