​Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni untuk mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara, melainkan momentum krusial untuk membedah kembali arah kompas pendidikan kita. Di tengah gempuran revolusi industri 4.0 dan transisi menuju masyarakat 5.0, kita dihadapkan pada paradoks besar: teknologi digital yang menjanjikan efisiensi luar biasa, namun di sisi lain berisiko mengikis esensi kemanusiaan dalam proses belajar-mengajar.

Transformasi Media dan Literasi Digital

​Pendidikan saat ini tidak lagi dibatasi oleh dinding kelas. Digitalisasi telah mengubah cara pengetahuan diproduksi dan dikonsumsi. Dalam kajian mengenai media pembelajaran, ditekankan bahwa integrasi teknologi bukan sekadar memindahkan teks ke dalam layar, melainkan bagaimana teknologi tersebut mampu menstimulasi kognisi, afeksi, dan psikomotorik siswa secara aktif.

​Pengembangan media pembelajaran berbasis komputer dan aplikasi seluler kini menjadi sebuah keniscayaan. Namun, literasi digital bagi pendidik adalah kunci utama. Tanpa pemahaman mendalam tentang cara kerja platform digital, teknologi hanya akan menjadi beban administratif alih-alih alat bantu pedagogis.

Tantangan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pendidikan

​Kehadiran Generative AI membawa disrupsi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di satu sisi, AI menawarkan personalisasi pembelajaran yang sangat presisi. Namun, refleksi kritis kita harus tertuju pada integritas akademik dan peran guru sebagai teladan moral.

​Dalam konteks penulisan karya ilmiah dan pembelajaran di sekolah dasar, penggunaan AI harus dibarengi dengan etika yang ketat. Teknologi ini seharusnya berfungsi sebagai “asisten kognitif” yang memperkuat kapabilitas manusia, bukan menggantikannya. Pendidik harus mampu merancang strategi pembelajaran yang tetap mengedepankan kemampuan berpikir kritis dan kreatif—hal-hal yang hingga saat ini belum bisa sepenuhnya ditiru oleh algoritma.

Menuju Kurikulum yang Memanusiakan

​Semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pada fleksibilitas dan pengembangan karakter sejalan dengan filosofi “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Pendidikan yang berkualitas di era digital adalah pendidikan yang mampu mengawinkan kecanggihan teknologi dengan kearifan lokal serta nilai-nilai ekopedagogi.

​Refleksi atas perjalanan pendidikan kita menunjukkan bahwa secanggih apa pun media yang digunakan, “nyawa” pendidikan tetap terletak pada interaksi interpersonal antara guru dan murid. Teknologi hanyalah sarana, sedangkan tujuan akhirnya adalah pembentukan manusia yang beradab, literat, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.

Ditulis oleh: Hamdan Husein Batubara